ASKEP ATRESIA ANI PADA ANAK PDF

Insiden penyakit atresia ani adalah 1 dalam kelahiran hidup, dengan jumlah penduduk Indonesia juta dan tingkat kelahiran 35 permil, maka diprediksikan setiap tahun akan lahir bayi dengan penyakit atresia ani. Kartono mencatat pasien penyakit atresia ani yang dirujuk setiap tahunnya ke RSUPN Cipto Mangunkusomo Jakarta dengan rasio laki-laki: perempuan adalah Insidensi ini dipengaruhi oleh group etnik, untuk Afrika dan Amerika adalah 2,1 dalam Sedangkan Richardson dan Brown menemukan tendensi faktor keturunan pada penyakit ini ditemukan 57 kasus dalam 24 keluarga. Atresia ani dapat mengakibatkan asidosis hiperkloremia, infeksi saluran kemih yang bisa berkepanjangan, kerusakan uretra akibat prosedur bedah , komplikasi jangka panjang yaitu eversi mukosa anal, stenosis akibat konstriksi jaringan perut dianastomosis , masalah atau k elambatan yang berhubungan dengan toilet training, inkontinensia akibat stenosis awal atau impaksi , prolaps mukosa anorektal dan fistula karena ketegangan diare pembedahan dan infeksi. Masalah tersebut dapat diatasi dengan peran aktif petugas kesehatan baik berupapromotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif.

Author:Ganos Yonos
Country:Angola
Language:English (Spanish)
Genre:Video
Published (Last):9 June 2005
Pages:387
PDF File Size:1.73 Mb
ePub File Size:18.40 Mb
ISBN:301-1-71916-877-4
Downloads:23282
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Dihn



Arifatus Novitasari 2. Siska Rohma Fadila 3. Erika Yunita Kusuma W. Ed 3 tahun Atresia ini atau anus imperforate adalah tidak terjadinya perforasi membran yang memisahkan bagian entoderm mengakibatkan pembentukan lubang anus yang tidak sempurna. Anus tampak rata atau sedikit cekung ke dalam atau kadang berbentuk anus namun tidak berhubungan langsung dengan rectum. Wong, : Atresia berasal dari bahasa Yunani, artinya tidak ada, trepis artinya nutrisi atau makanan.

Dalam istilah kedokteran atresia itu sendiri adalah keadaan tidak adanya atau tertutupnya lubang badan normal atau organ tubular secara kongenital disebut juga clausura. Dengan kata lain tidak adanya lubang di tempat yang seharusnya berlubang atau buntunya saluran atau rongga tubuh, hal ini bisa terjadi karena bawaan sejak lahir atau terjadi kemudian karena proses penyakit yang mengenai saluran itu. Atresia dapat terjadi pada seluruh saluran tubuh, misalnya atresia ani.

Atresia ani yaitu tidak berlubangnya dubur. Atresia ani memiliki nama lain yaitu anus imperforata. Jika atresia terjadi maka hampir selalu memerlukan tindakan operasi untuk membuat saluran seperti keadaan normalnya.

Atresia ani dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: 1. Putusnya saluran pencernaan dari atas dengan daerah dubur sehingga bayi lahir tanpa lubang dubur. Kegagalan pertumbuhan saat bayi dalam kandungan berusia 12 minggu atau 3 bulan.

Adanya gangguan atau berhentinya perkembangan embriologik didaerah usus, rektum bagian distal serta traktus urogenitalis, yang terjadi antara minggu keempat sampai keenam usia kehamilan. Berkaitan dengan sindrom down kondisi yang menyebabkan sekumpulan gejala mental dan fisik khas ini di sebabkan oleh kelainan gen dimana terdapat ekstra salinan kromosom 21 5. Atresia ani adalah suatu kelainan bawaan. Anus dan rektum berkembang dari embrionik bagian belakang.

Ujung ekor dari bagian belakang berkembang menjadi kloaka yang merupakan bakal genitourinaria dan struktur anorektal. Terjadi stenosis anal karena adanya penyempitan pada kanal anorektal. Terjadi atresia ani karena tidak ada kelengkapan migrasi dan perkembangan struktur kolon antara 7 dan 10 mingggu dalam perkembangan fetal. Kegagalan migrasi dapat juga karena kegagalan dalam agenesis sakral dan abnormalitas pada uretra dan vagina. Tidak ada pembukaan usus besar yang keluar melalui anus menyebabkan fekal tidak dapat dikeluarkan sehingga intestinal mengalami obstruksi.

Manifestasi klinis diakibatkan adanya obstruksi dan adanya fistula. Obstruksi ini mengakibatkan distensi abdomen, sekuestrasi cairan, muntah dengan segala akibatnya. Apabila urin mengalir melalui fistel menuju rektum, maka urin akan diabsorbsi sehingga terjadi asidosis hiperkloremia, sebaliknya feses mengalir ke arah traktus urinarius menyebabkan infeksi berulang. Pada keadaan ini biasanya akan terbentuk fistula antara rektum dengan organ sekitarnya. Pada laki-laki biasanya letak tinggi, umumnya fistula menuju ke vesika urinaria atau ke prostate.

Pada letak rendah fistula menuju ke uretra rektourethralis. Mekonium tidak keluar dalam 24 jam pertama setelah kelahiran. Tidak dapat dilakukan pengukuran suhu rectal pada bayi. Mekonium keluar melalui sebuah fistula atau anus yang salah letaknya. Distensi bertahap dan adanya tanda-tanda obstruksi usus bila tdk ada fistula.

Bayi muntah-muntah pada umur jam. Perut kembung. Asidosis hiperkloremia. Infeksi saluran kemih yang bisa berkepanjangan. Kerusakan uretra akibat prosedur bedah. Komplikasi jangka panjang yaitu eversi mukosa anal, stenosis akibat konstriksi jaringan perut dianastomosis.

Masalah atau kelambatan yang berhubungan dengan toilet training. Inkontinensia akibat stenosis awal atau impaksi. Prolaps mukosa anorektal. Fistula karena ketegangan abdomen, diare, pembedahan dan infeksi.

Ngastiyah, Anal stenosis adalah terjadinya penyempitan daerah anus sehingga feses tidak dapat keluar. Membranosus atresia adalah terdapat membran pada anus. Anal agenesis adalah memiliki anus tetapi ada daging diantara rektum dengan anus. Rektal atresia adalah tidak memiliki rektum. Pemeriksaan rectal digital dan visual adalah pemeriksaan diagnostik yang umum dilakukan pada gangguan ini. Jika ada fistula, urin dapat diperiksa untuk memeriksa adanya sel-sel epitel mekonium.

Pemeriksaan sinyal X lateral infeksi teknik wangensteen-rice dapat menunjukkan adanya kumpulan udara dalam ujung rectum yang buntu pada mekonium yang mencegah udara sampai keujung kantong rectal. Ultrasound dapat digunakan untuk menentukan letak rectal kantong. Aspirasi jarum untuk mendeteksi kantong rectal dengan menusukan jarum tersebut sampai melakukan aspirasi, jika mekonium tidak keluar pada saat jarum sudah masuk 1,5 cm Derek tersebut dianggap defek tingkat tinggi.

Pemeriksaan radiologis dapat ditemukan : a. Udara dalam usus berhenti tiba-tiba yang menandakan obstruksi di daerah tersebut. Dibuat foto anterpisterior AP dan lateral. Bayi diangkat dengan kepala dibawah dan kaki diatas pada anus benda bang radio-opak, sehingga pada foto daerah antara benda radio-opak dengan dengan bayangan udara tertinggi dapat diukur. Pembedahan Terapi pembedahan pada bayi baru lahir bervariasi sesuai dengan keparahan kelainan.

Semakin tinggi gangguan, semakin rumit prosedur pengobatannya. Untuk kelainan dilakukan kolostomi beberapa hari setelah lahir, kemudian anoplasti perineal yaitu dibuat anus permanen prosedur penarikan perineum abnormal dilakukan pada bayi berusia 12 bulan.

Pembedahan ini dilakukan pada usia 12 bulan dimaksudkan untuk memberi waktu pada pelvis untuk membesar dan pada otot-otot untuk berkembang. Tindakan ini juga memungkinkan bayi untuk menambah berat badan dan bertambah baik status nutrisnya.

Gangguan ringan di atas dengan menarik kantong rectal melalui afingter sampai lubang pada kulit anal fistula, bila ada harus tutup kelainan membranosa hanya memerlukan tindakan pembedahan yang minimal membran tersebut dilubangi degan hemostratau skapel 2.

Pengobatan a. Aksisi membran anal membuat anus buatan b. Fiktusi yaitu dengan melakukan kolostomi sementara dan setelah 3 bulan dilakukan korksi sekaligus pembuat anus permanen Staf Pengajar FKUI. Keluhan Utama : Distensi abdomen b.

Riwayat Kesehatan Sekarang :Muntah, perut kembung dan membuncit, tidak bisa buang air besar, meconium keluar dari vagina atau meconium terdapat dalam urin c. Riwayat Kesehatan Dahulu : Klien mengalami muntah-muntah setelah jam pertama kelahiran d. Riwayat Kesehatan Lingkungan : Kebersihan lingkungan tidak mempengaruhi kejadian atresia ani 2. Pola nutrisi metabolik Klien hanya minum ASI atau susu kaleng e.

Pola eliminasi Klien tidak dapat buang air besar, dalam urin ada mekonium f. Pola kognitif perseptual Klien belum mampu berkomunikasi, berespon, dan berorientas i dengan baik pada orang lain g. Pola konsep diri 1 Identitas diri : belum bisa dikaji 2 Ideal diri : belum bisa dikaji 3 Gambaran diri : belum bisa dikaji 4 Peran diri : belum bisa dikaji 5 Harga diri : belum bisa dikaji h.

Pola seksual Reproduksi Klien masih bayi dan belum menikah i. Pola nilai dan kepercayaan Belum bisa dikaji karena klien belum mengerti tentang kepercayaan j. Pola peran hubungan Belum bisa dikaji karena klien belum mampu berinteraksi dengan orang lain secara mandiri k.

Pola koping Belum bisa dikaji karena klien masih bayi dan belum mampu berespon terhadap adanya suatu masalah 2. Hidung Simetris, bersih, tidak ada luka, tidak ada secret, tidak ada pernafasan cuping hidung, tidak ada pus dan lendir. Mulut Bibir simetris, tidak macrognatia, micrognatia, tidak macroglosus, tidak cheilochisis. Telinga Memiliki 2 telinga yang simetris dan matur tulang kartilago berbentuk sempurna 7. Leher Tidak ada webbed neck.

Thorak Bentuk dada simetris, silindris, tidak pigeon chest, tidak funnel shest, pernafasan normal 9. Jantung Tidak ada mur-mur, frekuensi jantung teratur Getalia Terdapat lubang uretra, tidak ada epispandia pada penis tidak ada hipospandia pada penis, tidak ada hernia sorotalis.

Anus Tidak terdapat anus, anus nampak merah, usus melebar, kadang-kadang tampak ileus obstruksi. Thermometer yang dimasukan kedalam anus tertahan oleh jaringan. Pada auskultasi terdengar peristaltic. Ektrimitas atas dan bawah Simetris, tidak fraktur, jumlah jari lengkap, telapak tangan maupun kaki dan kukunya tampak agak pucat Punggung Tidak ada penonjolan spina gifid Pemeriksaan Reflek a.

Dx pre operasi a. Konstipasi berhubungan dengan aganglion. Risiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan menurunnya intake, muntah. Cemas orang tua berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang penyakit dan prosedur perawatan.

Dx Post Operasi a.

LIBER CHETH VEL VALLUM ABIEGNI PDF

ASKEP ATRESIA ESOFAGUS PDF

Insiden penyakit atresia ani adalah 1 dalam kelahiran hidup, dengan jumlah penduduk Indonesia juta dan tingkat kelahiran 35 permil, maka diprediksikan setiap tahun akan lahir bayi dengan penyakit atresia ani. Kartono mencatat pasien penyakit atresia ani yang dirujuk setiap tahunnya ke RSUPN Cipto Mangunkusomo Jakarta dengan rasio laki-laki: perempuan adalah Insidensi ini dipengaruhi oleh group etnik, untuk Afrika dan Amerika adalah 2,1 dalam Sedangkan Richardson dan Brown menemukan tendensi faktor keturunan pada penyakit ini ditemukan 57 kasus dalam 24 keluarga.

BIOELECTRICIDAD CEREBRAL PDF

Insiden penyakit atresia ani adalah 1 dalam kelahiran hidup, dengan jumlah penduduk Indonesia juta dan tingkat kelahiran 35 permil, maka diprediksikan setiap tahun akan lahir bayi dengan penyakit atresia ani. Kartono mencatat pasien penyakit atresia ani yang dirujuk setiap tahunnya ke RSUPN Cipto Mangunkusomo Jakarta dengan rasio laki-laki: perempuan adalah Insidensi ini dipengaruhi oleh group etnik, untuk Afrika dan Amerika adalah 2,1 dalam Sedangkan Richardson dan Brown menemukan tendensi faktor keturunan pada penyakit ini ditemukan 57 kasus dalam 24 keluarga. Tujuan 1. Tujuan Umum Diharapkan mahasiswi Akademi Keperawatan mampu melaksanakan asuhan keperawatan pada neonatus sakit dengan atresia ani secara menyeluruh dan terdapat keterpaduan dengan pendekatan manajement keperawatan.

Related Articles