MAKALAH TUNANETRA PDF

Pendahuluan Penulis mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT, dengan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini, selanjutnya shalawat dan salam ke-Ruh Nabi Muhammad SAW, yang telah membawa manusia dari zaman kegelapan ke zaman yang terang benderang saat ini. Manusia merupakan makhluk paling sempurna yang diciptakan Tuhan, namun dibalik kesempurnaan itu terdapat beberapa orang yang memiliki keterbatasan. Seiring dengan perkembangan zaman anak-anak yang memiliki keterbelakangan atau kelainan, baik dalam segi fisik maupun mental telah mendapatkan perhatian dari pemerintah, terbukti dengan dikeluarkannya Undang-Undang ABK Anak Berkebutuhan Khusus termasuk di Indonesia, pada tahun diatur dalam Undang-undang Nomor 20 tentang Satuan Pendidikan Nasional Bab IV Pasal 5 Ayat 2. Melalui undang-undang yang berlaku di Indonesia, anak berkebutuhan khusus yang memiliki keterbelakangan atau kelainan, baik dari segi fisik maupun mental dapat diwadahi melalui pelayanan pendidikan yang disesuaikan atau khusus.

Author:Dahn Zulkicage
Country:South Sudan
Language:English (Spanish)
Genre:Relationship
Published (Last):10 March 2004
Pages:347
PDF File Size:18.26 Mb
ePub File Size:11.45 Mb
ISBN:498-8-18880-241-8
Downloads:12745
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Tell



Latar Belakang Manusia merupakan makhluk paling sempurna yang diciptakan Tuhan, namun dibalik kesempurnaan itu terdapat beberapa orang yang memiliki keterbatasan. Pandangan yang tidak mewajarkan terhadap individu yang memiliki keterbatasan terjadi pada masa Renaissance, pada masa itu anak yang memiliki keterbatasan fisik maupun mental diperlakukan dengan buruk dianggap sebagai manusia yang kerasukan roh jahat. Seiring dengan perkembangan zaman anak-anak yang memiliki keterbelakangan atau kelainan, baik dalam segi fisik maupun mental telah mendapatkan perhatian dari pemerintah, terbukti dengan dikeluarkannya Undang-Undang ABK Anak Berkebutuhan Khusus termasuk di Indonesia, pada tahun diatur dalam Undang-undang Nomor 20 tentang Satuan Pendidikan Nasional Bab IV Pasal 5 Ayat 2.

Melalui undang-undang yang berlaku di Indonesia, anak berkebutuhan khusus yang memiliki keterbelakangan atau kelainan, baik dari segi fisik maupun mental dapat diwadahi melalui pelayanan pendidikan yang disesuaikan atau khusus.

Seperti halnya salah satu kelainan fisik yang diderita oleh anak berkebutuhan khusus yaitu anak yang memiliki keterbatasan penglihatan tunanetra. Rumusan Masalah 1. Apa pengertian gangguan penglihatan ketunanetraan?

Apa saja faktor-faktor penyebab ketunanteraan? Bagaimana perkembangan kognitif anak tunanetra? Bagaimana perkembangan motorik anak tunanetra? Bagaimana perkembangan emosi anak tunanetra? Bagaimana perkembangan sosial anak tunanetra? Bagaimana perkembangan kepribadian anak tunanetra? Apa saja masalah ketunanetraan bagi keluarga, masyarakat dan penyelenggara pendidikan? Apa saja dampak ketunanetraan bagi keluarga, masyarakat dan penyelenggara pendidikan?

Tujuan Penulisan 1. Mengetahui pengertian gangguan penglihatan ketunanetraan. Mengetahui faktor-faktor penyebab ketunanteraan. Mengetahui perkembangan kognitif anak tunanetra. Mengetahui perkembangan motorik anak tunanetra. Mengetahui perkembangan emosi anak tunanetra. Mengetahui perkembangan sosial anak tunanetra. Mengetahui perkembangan kepribadian anak tunanetra.

Mengetahui masalah ketunanetraan bagi keluarga, masyarakat dan penyelenggara pendidikan. Mengetahui dampak ketunanetraan bagi keluarga, masyarakat dan penyelenggara pendidikan.

Jadi, tunanetra tidak hanya mereka yang buta saja melaikan mereka yang mampu melihat tetapi penglihatannya sangat kurang dan terbatas sekali sehingga tidak bisa digunakan atau dimanfaatkan untuk kegiatan pembelajaran seperti halnya orang awas biasa.

Dalam hal ini adalah kedua-duanya indra penglihatanya tidak dapat berfungsi dengan baik. Secara pengertian, mereka yang mengalami kerusakan indra penglihatanyya tergolong tunanetra. Akan tetapi, individu yang disebut sebagai tunanetra dalam hal ini ialah mereka yang tak mampu atau tidak dapat memanfaatkan indra penglihatannya secara optimal untuk kegiatan pembelajaran, sehingga perlu penanganan atau layanan yang khusus berkebutuhan khusus. Klasifikasi anak dengan gangguan penglihatan menurut Somantri 65 , yaitu: Dalam bidang pendidikan luar biasa, anak dengan gangguan penglihatan tidak saja mereka yang buta, tetapi mencakup juga mereka yang mampu melihat tapi terbatas.

Anak-anak dengan gangguan penglihatan ini dapat diketahui dalam kondisi berikut: 1. Ketajaman penglihatannya kurang dari ketajaman yang dimiliki orang awas, 2. Terjadi kekeruhan pada mata atau terdapat cairan tertentu, 3.

Posisi mata sulit dikendalikan oleh syaraf otak, dan 4. Terjadi kerusakan susunan syaraf otak yang berhubungan dengan penglihatan. Artinya, berdasarkan tes, anak hanya mampu membaca huruf pada jarak 6 meter yang oleh orang awas dapat dibaca pada jarak 21 meter yang diukur dengan tes snellen card. Berdasarkan acuan tersebut, anak tunanetra dikelompokan menjadi 2 macam, yaitu: 1. Dari pengertian yang disampaikan para ahli, dapat disimpulkan bahwa gangguan penglihatan ketunanetraan merupakan suatu keterbatasan penglihatan yang dialami individu baik itu hanya berupa penglihatan terbatas maupun buta total yang mengakibatkan dirinya membutuhkan pelayanan dan pendidikan yang khusus agar perkembangan kognitif, motorik, emosi, sosial dan kepribadian penderita dapat terus berkembang optimal.

Faktor internal timbul dalam diri individu keturunan Faktor internal merupakan faktor yang timbul dari dalam individu itu sendiri intern , yakni sifat genetik yang di bawa individu akibat hasil persilangan yang salah karena terjadi atau terdapat beberapa kelainan, sehingga beberapa fungsi organ-organ tubuh akibat persilangan gen yang salah akan mengakibatkan terganggunya atau menjadi tidak dapat berfungsinya organ-organ tersebut dengan semestinya tidak optimal.

Faktor ini kemungkinan besar terjadi pada perkawinan antar keluarga dekat dan perkawinan antar tunanetra. Karena didalam keluarga memiliki kesamaan gen satu sama lainnya yang memungkinkan gen-gen tersebut membawa sifat suatu penyakit atau kecacatan tertentu. Biasanya gen ini tidak tampak resesif , namun apabila gen-gen ini gen pembawa sifat kelainan tercampur dengan gen yang sehat dan dominan, maka gen pembawa sifat penyakit yang ada akan menjadi tampak. Begitupula dengan perkawinan antar atau salah satu penderita tunanetra yang membawa gen akan mewariskan sifat genetiknya.

Pada umumnya faktor keturunan terdapat pada inti sel dalam bentuk kromosom yang berjumlah 23 pasang, kromosom ini terdiri dari zat yang kompleks yang dinamakan DNA. DNA membentuk gen-gen yang merupakan pembawa sifat bagi setiap karakteristik dalam tubuh. Faktor eksternal berasal dari luar individu Faktor eksternal merupakan faktor yang datang dari luar individu itu sendiri.

Faktor-faktor ini bisa saja timbul karena kecelakaan atau terserang suatu penyakit. Penyebab ketunanetraan menurut Wardani

DANFOSS VLT 3006 PDF

Tulisan Terakhir

Masing-masing anak memiliki karakteristik dan keunikan tersendiri, khususnya mengenai kebutuhan dan kemampuannya dalam belajar di sekolah. Anak-anak berkebutuhan khusus, adalah anak-anak yang memiliki keunikan tersendiri dalam jenis dan karakteristiknya, yang membedakan mereka dari anak-anak normal pada umumnya. Keadaan inilah yang menuntut adanya penyesuaian dalam pemberian layanan pendidikan yang dibutuhkan. Keragaman yang terjadi, memang terkadang menyulitkan guru dalam upaya pemberian layanan pendidikan yang sesuai. Anak-anak tersebut, tentu saja tidak dapat dengan serta merta dilayani kebutuhan belajarnya sebagaimana anak-anak normal pada umumnya. Guru di sekolah haruslah dapat memberikan layanan pendidikan pada setiap anak berkebutuhan khusus, hanya sayangnya masih banyak guru-guru di sekolah dasar yang belum memahami tentang anak berkebutuhan khusus. Hal demikian tentu saja mereka juga tidak akan dapat memberikan layanan pendidikan yang optimal.

SEMIOLOGIA QUIRURGICA PDF

Karena dalam beraktifitas manusia pada umumnya selalu menggunakan penglihatannya, dengan mata kita dapat mengamati dan mengetahui segala sesuatu dengan lebih baik, tentunya tanpa mengesampingkan alat indra yang lain. Mata adalah sumber cahaya, dari sana kita tahu apa itu biru, putih, hitam dan lainnya. Apa jadinya jika nikmat melihat tidak diizinkan menyertai kehidupan kita?. Lalu apa itu tunanetra? Bukankah setiap manusia berhak mendapat pengarahan dan pendidikan yang layak?

BECOMING A TEACHER PARKAY 9TH EDITION PDF

Motorik Perkembangan motorik lambat karena kondisi psikis yang kurang mendukung seperti pemahaman terhadap realitas lingkungan, kemungkinan mengetahui adanya bahaya dan cara menghadapi keterampilan gerak yang serba terbatas serta kurangnya keberania dalam melakukan sesuatu. Pengklasifikasian Tunanetra Secara Umum 1. Buta total Seseorang dikatakan buta atau menjadi tunanetra total apabila orang tersebut sama sekali tidak mampu menerima rangsangan cahaya dari luar. Klasifikasi anak tuanetra didasarkan pada waktu terjadinya ketunanetraan, yaitu: 1. Tunanetra sebelum dan sejak lahir Orang yang sama sekali tidak memiliki pengalaman penglihatan. Tunanetra setelah lahir atau pada usia kecil Orang telah memiliki kesan-kesan serta pengalaman visual tetapi belum kuat dan udah terlupakan. Tunanetra pada usia sekolah atau pada masa remaja Mereka telah memiliki kesan-kesan visual dan meninggalkan pengaruh mendalam terhadap proses perkembangan pribadi.

KPKU BUMN PDF

Latar Belakang Manusia merupakan makhluk paling sempurna yang diciptakan Tuhan, namun dibalik kesempurnaan itu terdapat beberapa orang yang memiliki keterbatasan. Pandangan yang tidak mewajarkan terhadap individu yang memiliki keterbatasan terjadi pada masa Renaissance, pada masa itu anak yang memiliki keterbatasan fisik maupun mental diperlakukan dengan buruk dianggap sebagai manusia yang kerasukan roh jahat. Seiring dengan perkembangan zaman anak-anak yang memiliki keterbelakangan atau kelainan, baik dalam segi fisik maupun mental telah mendapatkan perhatian dari pemerintah, terbukti dengan dikeluarkannya Undang-Undang ABK Anak Berkebutuhan Khusus termasuk di Indonesia, pada tahun diatur dalam Undang-undang Nomor 20 tentang Satuan Pendidikan Nasional Bab IV Pasal 5 Ayat 2. Melalui undang-undang yang berlaku di Indonesia, anak berkebutuhan khusus yang memiliki keterbelakangan atau kelainan, baik dari segi fisik maupun mental dapat diwadahi melalui pelayanan pendidikan yang disesuaikan atau khusus. Seperti halnya salah satu kelainan fisik yang diderita oleh anak berkebutuhan khusus yaitu anak yang memiliki keterbatasan penglihatan tunanetra.

Related Articles